Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Eka Wahyu Hestya Budianto
(1) Tashawwur: Pengertiannya, Pembagiannya (Dharuriy & Nazhariy); (2) Tashdiq: Pengertiannya, Unsur-Unsur dalam Tashdiq (Subjek, Predikat, Keterkaitan antara Keduanya & Penghukuman), Pembagiannya (Dharuriy & Nazhariy).
PEMBAHASAN ILMU MANTIQ TERLENGKAP : klik disini
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
MATERI KEILMUAN ISLAM LENGKAP (klik disini)
MATERI KEILMUAN ISLAM LENGKAP (klik disini)
Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq - TOAFL
##########
BAB 2 : TASHAWWUR/KONSEPSI & TASHDIQ/ASSENT (التصور والتصديق) Kita telah mengetahui bahwasanya terkadang manusia tidak mengetahui makna sesuatu hal, oleh karena itu diperlukan Ta’rif/definisi yang menjelaskan tentang hal tersebut. Maka saat itu akan tergambar (تصور) mengenai hal tersebut dan mencapai kepada pengetahuan mengenainya. Dan terkadang manusia mengetahui makna sesuatu tetapi tidak mengetahui benar tidak sesuatu tersebut, maka diperlukan dalil untuk mencapai kebenaran (تصديق) hal tersebut. Kesimpulannya bahwa kita jahil terhadap makna sesuatu, maka memerlukan penggambarannya dengan Ta’rif (يطلب تصوره بالتعريف). Dan terkadang jahil terhadap kebenaran suatu permasalahan, maka memerlukan pembenarannya dengan perantara Dalil (يطلب التصديق بوااسطة الدليل). Contoh: Kalimat (زيد قائم) Zaid berdiri. Jika kita mengetahui tentang Zaid, yaitu orang laki-laki tertentu, dan makna berdiri, yaitu berhenti pada kedua kakinya dan tidak berpindah. Ini adalah Tashawwur karena kita mengetahui makna Zaid berdiri. Jika kita menghukumi bahwa Zaid berdiri, atau kita membenarkan kandungan perihal tersebut bahwa Zaid berdiri dalam kenyataannya, ini adalah Tashdiq. Begitu juga sebaliknya. Jadi Tashdiq, bisa jadi menetapkan kandungan suatu hal atau menolaknya. Dengan ungkapan lain, Tashawwur adalah mengetahui makna, sedangkan Tashdiq adalah mengetahui jujur atau kebohongan. I. TASHAWWUR/KONSEPSI (التصور) Pengertian Tashawwur (تعريف التصور) Menurut bahasa, Tashawwur adalah Mashdar dari kata (تصور يتصور) yang artinya pembayangan atau penggambaran. Menurut istilah Ilmu Mantiq, Tashawwur adalah (إدراك الشيء مع عدم الحكم عليه) mengetahui sesuatu dengan tidak disertai penghukuman terhadap sesuatu tersebut, baik katanya Mufrad atau Murakkab. Mufrad (مفرد). Contoh: Pengetahuan kita terhadap kata “Buku”. Maka akan terbayang dalam pikiran kita bentuk buku yang sering kita lihat, tanpa menyertakan predikat lain, seperti buku itu mahal, buku itu mahal dan sebagainya. Murakkab (مركب). Contoh: Pengetahuan kita terhadap kata “Mobil Ahmad”. Meskipun terangkai dari dua suku kata, tetapi tidak ada unsur penghukuman di dalamnya, maka masih dapat disebut Tashawwur. Murakkab Taushifiy (مركب توصيفي), yaitu kata-katanya terangkai dan disertai keterangan pada kata tersebut. Contoh: Perempuan yang cantik. Meskipun terangkai dan disertai predikat, tetapi tidak ada unsur penghukuman di dalamnya, maka masih dapat disebut Tashawwur. Murakkab Insya’i (مركب إنشائي), yaitu tersusun dari perintah atau larangan. Contoh: “Wahai Fathimah, kumohon, jangan tinggalkan Aku”. Pembagian Tashawwur (أقسام التصور): Dharuriy/Badihiy/Aksiomatis (الضروري أو البديهي), yaitu (ما لا يحتاج إلى فكر ونظر بل يدركه من كان سليم العقل) tidak membutuhkan kepada pemikiran dan penalaran, tetapi mencapainya dengan akal yang sehat. Contoh: Saat membayangkan rasa lapar, maka kita tidak perlu bersusah payah membayangkan bagaimana itu rasa lapar. Nazhariy/Kasbiy/Spekulatif (النظري أو الكسبي), yaitu (ما يحتاج إلى نظر وفكر) tidak membutuhkan kepada pemikiran dan penalaran. Contoh: Saat ada yang mengatakan lafaz malaikat, jin, ruh, maka membutuhkan perenungan atau berspekulasi mengenai hal tersebut. II. TASHDIQ/ASSENT (التصديق) Pengertian Tashdiq (تعريف التصديق): Menurut bahasa, Tashdiq adalah Mashdar dari (صدق يصدق) dengan Tasydid Dal/’Ain Fa’il, yang artinya pembenaran atau persetujuan. Menurut istilah Ilmu Mantiq, Tashdiq adalah (إدراك مشتمل على الإثبات أو النفي، مضافا إلى الإذعان واليقين بثبوت الشيء أو ثبوت شيء لشيء، والحكم بمطابقة النسبة للواقع أو عدم مطابقتها له) pengetahuan yang mencakup peng-itsbat-an/penetapan/afirmatif atau pe-nafi-an//penolakan/negatif yang disertakan kepada kepatuhan dan keyakinan terhadap tetapnya sesuatu atau tetapnya sesuatu untuk sesuatu yang lain. Dan penghukumannya sesuai dengan proporsi pada suatu kejadian atau tidak adanya kesesuaian proporsi padanya. Singkatnya, pembenaran atau penolakan kita terhadap suatu qadhiyyah/proposisi, baik secara yakin, pasti/jazm, atau sekedar sangkaan/dzann. Unsur-unsur dalam Tashdiq ada empat. Menurut Al-Raziy, keempat unsur ini bagian yang tidak terpisahkan dari Tashdiq, artinya jika salah satu dari keempatnya hilang, maka suatu frase tidak bisa menghasilkan sebuah Tashdiq. Sedangkan para filsuf lainnya menyatakan bahwa yang terpenting dari sebuah Tashdiq adalah penghukuman, sedangkan tiga unsur lainnya hanyalah syarat saja. Ini artinya jika salah satunya hilang, maka masih memungkinkan menghasilkan Tashdiq, akan tetapi kurang sempurna. Akan tetapi keduanya sepakat bahwa Tashdiq yang sempurna harus memenuhi keempat unsur berikut: Subjek (الموضوع أو المحكوم عليه) Predikat (المحمول أو المحكوم به) Keterkaitan antara Subjek dan Predikat (النسبة الحكمية) Penghukuman (الحكم), yaitu pembenaran dari sebuah pernyataan. Contoh: Lafaz “Mobil BMW itu mahal”. “Mobil BMW” sebagai subjek dan “Mahal” sebagai predikat. Ketika kalimat tersebut dikatakan, maka kita belum langsung bisa menyetujui pernyataan tersebut kecuali membayangkan dua unsur lainnya. Yaitu keterkaitan antara “Mobil BMW” dan “Mahal”, lalu berlaku tidaknya kemahalan itu untuk sebuah mobil BMW. Pembagian Tashdiq (أقسام التصديق): Dharuriy/Badihiy/Aksiomatis (الضروري أو البديهي), yaitu (ما لا يحتاج إلى فكر ونظر بل يدركه من كان سليم العقل) tidak membutuhkan kepada pemikiran dan penalaran, tetapi mencapainya dengan akal yang sehat. Contoh: Matahari terbit dari arah Timur, satu adalah setengah dari dua. Nazhariy/Kasbiy/Spekulatif (النظري أو الكسبي), yaitu (ما يحتاج إلى نظر وفكر) tidak membutuhkan kepada pemikiran dan penalaran. Contoh: Alam ini diciptakan dari ketiadaan, Alam semesta ini tidak kekal.










0 Comments