Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Eka Wahyu Hestya Budianto
(1) Pengertian Qaul Syarih/Ta'rif; (2) Tujuan-Tujuan Ta’rif; (3) Metode Mencapai Ta’rif; (4) Pembagian Ta’rif: Ta’rif Manthiqiy, Ghair Manthiqiy & Lafziy; (5) Pembagian Ta’rif Haqiqiy: Had (Tam & Naqish), Rasm (Tam & Naqish) & Bi Al-Khash (Lafzhi & Bi Mitsal); (6) Pembagian Ta’rif Ghair Haqiqiy; (7) Syarat-Syaratnya; (8) Laa Mu’arrafat: Pengertiannya & Macam-Macamnya, (9) Kesalahan-Kesalahan Dalam Ta’rif & Sebab-Sebabnya.
PEMBAHASAN ILMU MANTIQ TERLENGKAP : klik disini
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
MATERI KEILMUAN ISLAM LENGKAP (klik disini)
MATERI KEILMUAN ISLAM LENGKAP (klik disini)
Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq - TOAFL
##########
BAB 11 : QAUL SYARIH/TA’RIF/MU’ARRAF/DEFINISI (القول الشارح التعريف أو المعرف) I. PENGERTIANNYA (تعريفه) Menurut Al-Jurjani, Ta’rif adalah (عبارة عن ذكر شيء تستلزم معرفته معرفة شيء آخر) ungkapan tentang penyebutan sesuatu yang dengan mengetahuinya maka akan mengetahui yang lain. Ta’rif juga disebut Had/batasan, yaitu (قول دال على ماهية الشيء) perkataan yang menunjukkan kepada hakikat sesuatu. Disebut juga Qaul Syarih, karena (يشرح الماهية ويجليها ويوضحها ويميزها عما سواها) menjelaskan hakikat sesuatu, memperlihatkannya, memperjelasnya dan membedakannya dengan selainnya. Ta’rif & Mu’arraf maknanya sama. Ta’rif digunakan untuk menganalisis, menjelaskan lebih jauh tentang Mafhum/makna/hakikat dari suatu lafaz. II. TUJUAN-TUJUAN TA’RIF (أغراض التعريف) (إزالة اللبس في المعني) menghilangkan bercampur aduknya lafaz dalam maknanya. (توضيح المعنى) memperjelas maknanya. (ازدياد حصيلة الإنسان للغوية) peningkatan hasil produksi manusia untuk kebahasaan. (الشرح بطريقة نظرية) penjelasan melalui metode teoritis. III. METODE MENCAPAI TA’RIF (طريقة اكتساب التعريف) Yaitu dengan metode Tahlil/penganalisaan dan Tarkib/penyusunan. Kedua metode ini dapat dicapai dengan bersandarkan kepada dua pondasi penting: (معرفة الجنس العالي أو ما دونه), yaitu mengetahui Jinis ‘Aliy atau di bawahnya. (معرفة المميز), yaitu mengetahui pembedanya. IV. PEMBAGIAN TA’RIF (أقسام التعريف) Ta’rif Manthiqiy/Haqiqiy (التعريف الحقيقي أو المنطقي), yaitu (ما يفيد تصور الشيء) Ta’rif yang berguna untuk menggambarkan hakekat sesuatu. Contoh: (الإنسان هو حيوان ناطق) Manusia adalah hewan yang berpikir. Ta’rif Ghair Manthiqiy/Ghair Haqiqiy (التعريف غير منطقي أو غير حقيقي) Ta’rif Lafziy (التعريف اللفظي), yaitu (تبديل لفظ بلفظ أوضح) mengganti suatu lafaz dengan lafaz lain yang lebih jelas dan terang. Contoh: (الإنسان هو البشر). V. PEMBAGIAN TA’RIF HAQIQIY (أقسام التعريف الحقيقي) Had/Analitik (الحد), yaitu (ما كان بالذاتيات فقط) ta’rif yang menggunakan rangkaian lafaz Kulliy Dzatiy (Jinis, Nau’ dan Fashl). Pembagiannya adalah: Ta’rif Had Tam (تعريف حد تام), yaitu (ما كان بالجنس والفصل القريبين) ta’rif yang menggunakan rangkaian Jinis Qarib dan Fashl. Contoh: (الإنسان هو حيوان ناطق). Ta’rif Had Naqish (تعريف حد ناقص), yaitu (ما كان بالجنس البعيد مع الفصل القريب أو الفصل القريب فقط) ta’rif yang menggunakan rangkaian Jinis Bai’d dan Fashl Qarib, atau Fashl Qarib saja. Contoh: (الإنسان هو جسم ناطق). Lafaz (جسم) adalah Jinis Ba’id bagi (إنسان). Atau (الإنسان هو ناطق). Rasm/Deskriptif (الرسم), yaitu (كان بالذتيات والعرضيات أو العرضيات فقط) ta’rif yang menggunakan rangkaian lafaz Kulliy Dzatiy dan ‘Aradh atau ‘Aradh saja. Pembagiannya adalah: Ta’rif Rasm Tam (تعريف رسم تام), yaitu (ما تألف من الجنس القريب وعرض الخاص) ta’rif yang tersusun dari Jinis Qarin dan ‘Aradh Khash. Contoh: kalimat (الإنسان هو حيوان ضاحك). Ta’rif Rasm Naqish (تعريف رسم ناقص), yaitu (ما تألف من الجنس البعيد وعرض الخاص أو عرض الخاص وحدها) ta’rif yang tersusun dari Jinis Ba’id dan ‘Aradh Khash atau ‘Aradh Khash saja. Contoh: kalimat (الإنسان هو جسم ضاحك) atau (الإنسان هو ضاحك). Ta’rif bi Al-Khash (تعريف بالخاص) Lafzhi/Nomina (اللفظي), yaitu (تبيين معنى اللفظ بلفظ أوضح منه) menjelaskan makna suatu lafaz dengan lafaz yang lebih jelas darinya. Contoh: Penafsiran lafaz (البر) dengan (القمح). Bi Al-Mutsal (التعريف بالمثال), yaitu seperti perkataanmu dalam pengertian Kulliy: Bahawasanya seperti lafaz (إنسان) manusia. VI. PEMBAGIAN TA’RIF GHAIR HAQIQIY/GHAIR MANTHIQIY (التعريف غير الحقيقي أو غير المنطقي) (التعريف بالإشارة), yaitu (توضيح الشيء بالإشارة إليه) penjelasan sesuatu dengan isyarat kepadanya. Contoh: Apabila ditanya: Apa itu burung? Maka ia menunjuk kepada burung, dan mengatakan bahwa itulah yang dimaksud dengan burung. (التعريف بالمرادف), yaitu (تعريف اللفظ بواسطة اللفظ أوضح منه في الدلالة على المعنى المراد) mendefinisikan lafaz dengan perantara lafaz yang lebih jelas darinya dalam perihal arti terhadap makna yang dimaksud. Contoh: Apabila ditanya: Apa itu kendaraan? Maka dijawab: Kendaraan adalah bis, angkutan umum dan lainnya. (التعريف بالمثال), yaitu (الذي يكون بذكر أمثلة تقرب إلى الذهن المعنى المراد بالشيء الذي ينبغي تعريفه) Ta’rif yang menyebutkan misal-misalnya dengan mendekatkan pikiran kepada suatu makna yang dimaksud, yakni sesuatu yang harus didefinisikan. Contoh: Apabila ditanya: Apa itu buah-buahan? Maka dijawab: Buah-buahan seperti apel, jeruk, mangga dan lainnya. (التعريف بالسلب), seperti: Apabila ditanya: Apa itu hewan? Maka dijawab: Hewan itu bukan tumbuhan. (التعريف بالتنبيه). Contoh: Ada orang yang sebelumnya memiliki bayangan tertentu tentang arti single, kemudian ia lupa. Lalu ada yang mengatakan bahwa single itu jomblo. Dalam konteks ini, yang mengatakan itu mengingatkan dengan bahasa lain yang lebih terkenal. (التعريف بالتقسيم), yaitu menjelaskan sesuatu dengan bagian yang tercakup oleh sesuatu itu, tetapi tidak menjelaskan esensinya. Contoh: Apabila ditanya: Apa itu universitas? Maka dijawab: Universitas itu ada yang negeri dan swasta. (التعريف بالمجاز). Contoh: Definisi dari unta, yaitu kapal padang pasir. (تعريف الشيء بنفسه). Contoh: Definisi ilmu dengan ilmu. (تعريف يعتمد في معناه على المعرف), yaitu Ta’rif yang bersandar pada makna yang didefinikan. Contoh: Ta’rif dari hidup bahwasanya ia adalah kumpulan kekuatan kehidupan. VII. SYARAT-SYARATNYA (شروطه) (ألا يكون التعريف أعم من المعرف ولا أخص) Ta’rif tidak boleh lebih umum (المثلث هو سطح مستو) atau lebih khusus darinya (المثلث هو ذو ثلاث زوايا إحداها قائمة) dari sesuatu yang akan dijelaskan. (أن يكون التعريف أوضح من المعرف) Ta’rif harus lebih jelas dari yang akan dijelaskan. Tidak boleh seperti contoh: (العلم هو ما ليس بجهل) ilmu adalah yang tidak bodoh. Atau (الحركة هي ما ليست بسكون) bergerak adalah yang tidak diam. (أن يكون خاليا من الدور) Ta’rif jauh dari daur/berputar-putar. Contoh: (العلم هو وصول صورة المعلوم إلى الذهن) ilmu adalah sampainya gambaran yang diketahui ke dalam benak. Karena (المعلوم) berhenti pengetahuannya atas ilmu. (أن يكون التعريف جامعا ومانعا) Ta’rif berupa Jami’ (يضم التعريف كل أفراد المعرف) pengumpulan semua jenis yang di-ta’rif-kan ke dalam suatu ta’rif dan Mani’ (يمنع دخول غير أفراد المعرف في التعريف) melarang masuk segala jenis hakekat lain di luar hakekat yang akan di-ta’rif-kan. (ألا يكون التعريف مجازا) Ta’rif tidak boleh berupa majas yang tidak disertai indikator/qarinah yang menjelaskan makna yang dikehendaki. (ألا يكون التعريف باللفظ المشترك) Ta’rif tidak berupa lafaz musytarak atau mempunyai banyak arti. (ألا يكون التعريف بالرسم يحمل الحكم) Ta’rif yang berbentuk Rasm tidak boleh mencantumkan suatu hukum, karena penghukuman atas suatu hal merupakan pembagian dari penggambaran hal tersebut dalam bentuk Tashawwur. Contoh: (الفاعل هو الاسم المرفوع). (ألا يجوز أن يدخل لفظ أو في التعريف بالحد و جوازه في التعريف بالرسم) Ta’rif berbentuk Had tidak boleh dimasuki lafaz (أو) karena ia memiliki makna Taqsim/pembagian dan Takhyir/pemilihan. Akan tetapi hal tersebut diperbolehkan pada Ta’rif yang berbentuk Rasm. Contoh: Yang pertama: (الإنسان هو حيوان ناطق). Yang kedua: (الإنسان هو حيوان ضاحك أو باك). VIII. LAA MU’ARRAFAT (اللامعرفات) Laa Mu’arrafat adalah sesuatu yang tidak mungkin untuk mendefinisikannya dan tidak dapat menerima suatu definisi. Hal ini tidak masuk di bawah Jinis dan tidak dikaitkan kepada Fashl dan Nau’. Macam-macamnya: (المعطيات المباشرة للتجربة), yaitu (ليست في ذاتها قابلة للتعريف) tidak terdapat dalam esensinya yang menerima untuk didefinisikan dan tidak terdapat metode dari metode pengetahuan yang dapat sampai kepada definisinya serta mengungkapkan hakekatnya. Pembagiannya: (إدراكات حسية). Contoh: Tidak dapat mendefinisikan tentang cahaya dan warna bagi orang yang tidak dapat melihat sejak lahir, atau bunyi bagi orang yang tidak dapat mendengar sejak lahir. (العواطف الأولية). Contoh: Perasaan cinta dan kasih sayang, perasaan keibuan, perasaan kebapakan dan lainnya. Semua perasaan tersebut tidak dapat diungkapkan ke dalam bahasa selain diri kita sendiri. Perasaan adalah ungkapan dalam hati. Sebagaimana tidak dapat merasakan perasaan keibuan bagi seorang bapak dan perasaan kebapakan bagi seorang ibu. (الأجناس العليا), yaitu yang tidak ada Jinis di atasnya. Bahwasanya tidak ada definisi baginya karena ketiadaan Jinis yang lebih umum darinya, yang memungkinkan terdapat menurunkan Jinis di bawahnya. Seperti lafaz (الجوهر) yang di bawahnya terdapat Jinis, tetapi di atasnya tidak terdapat Jinis yang lebih tinggi. (الأفراد الجزئية), yaitu tidak tunduk pada suatu definisi dikarenakan bagi individu tidak ada Mafhum yang dibatasi. Dan juga, tidak berlaku suatu Ta’rif untuk individu, tetapi Ta’rif selalu untuk Kulliy. IX. KESALAHAN-KESALAHAN DALAM TA’RIF & SEBAB-SEBABNYA (أخطاء التعريفات وأسبابها) Tidak adanya perhatian pada kaidah-kaidah Ta’rif dan syarat-syaratnya. Kemudian tidak adanya penerapan kaidah-kaidah tersebut dan penjagaan syarat-syaratnya. Kesalahan dalam menggambarkan/memahami Jinis, antara lain: (أخذ اللازم للشيء على أنه جنس) meletakkan Lazim untuk sesuatu sekalipun itu Jinis. Contoh: (إنسان موجود ناطق) Manusia itu ada berpikir. Ini berkeyakinan bahwa lafaz (موجود) adalah Jinis bagi manusia, padahal hakekatnya sifat (موجود) adalah kelaziman bagi manusia. (وضع الفصل مكان الجنس) meletakkan Fashl di tempat Jinis. Contoh: (العشق إفراط المحبة) Nafsu adalah perihal cinta yang melampui batas. (وضع النوع مكان الجنس في التعريف) meletakkan Nau’ di tempat Jinis. Contoh: (الشر هو ظلم الناس) Kejahatan adalah sebuah kezaliman manusia. (وضع المادة مكان الجنس) meletakkan substansi di tempat Jinis. Contoh: (السيف هو حديد يقطع به رقبة العدو) Pedang adalah besi yang memotong dengannya leher musuh. Besi adalah substansi/materi dari sebuah pedang. Kesalahan yang terjadi dalam Fashl: Yang paling riskan adalah meletakkan Sifat ‘Aradhiyyah Lazimah di tempat Fashl. Contoh: (الأوربى هو إنسان أبيض) mendefinisikan Orang Eropa itu manusia berkulit putih atau (الزنجي هو إنسان أسود) Orang Negro itu manusia berkulit hitam.














0 Comments