Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Eka Wahyu Hestya Budianto
MATERI KEILMUAN ISLAM LENGKAP (klik disini)
BAB 55 : FI’IL MADH/NI’MA & DZAMM/BI’SA (نِعْمَ وَبِئْسَ) I. PENGERTIAN (تعريفهما) Ni’ma dan Bi’sa adalah kata kerja/kalimah Fi’il yang
menunjukkan makna pujian dan celaan secara umum. Keduanya berupa Fi’il
Madhi yang jamid menetapi zaman madhi dan tentunya memiliki Fail/Subjek.
Akan tetapi kedua Fi’il ini tidak ada penunjukan waktu setelah keduanya
berikut Fail-nya dijadikan kalimat berupa jumlah insya’ ghairu
thalabiy. II. FA’IL/SUBJEK NI’MA & BI’SA (فاعلهما) A.
Menyandang Alif Lam (ال) baik disebut Alif Lam Jinsiyyah atau
Ahdiyyah. Contoh: (نِعْمَ الخُلُقُ الصِدْقُ) (وَبِئْسَ الخُلُقُ
الكَذِبُ) (نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ).B.
Mudhaf kepada isim yang menyandang Alif Lam (ال). Contoh: (نِعْمَ
قَائِدُ المُسْلِمِيْنَ خَالِدٌ) (وَبِئْسَ رَجُلُ القَوْمِ أَبُوْ جَهْلٍ)
(وَلَنِعْمَ دَارُ المُتَّقِيْنَ) (وَبِئْسَ مَثْوَى الظَالِمِيْنَ).C.
Mudhaf kepada isim yang mudhaf kepada isim yang menyandang Alif Lam.
Contoh: (نِعْمَ حَافِظُ كِتَابِ اللهِ) (وَبِئْسَ مُهْمِلِ أَوَامِرِ
القُرْآنِ)D.
Fa’il-nya berupa dhamir mustatir dan setelahnya ada isim nakirah
sebagai penafsir dari kesamaran tentang dhamir mustatir tersebut.
Contoh: (نِعْمَ صِدِيْقًا الكِتَابُ) (بِئْسَ خُلُقًا خَلْفُ الوَعْدِ)
(بِئْسَ لِلظَّالِمِيْنَ بَدَلًا).III. HURUF MAA (ما) SETELAH NI’MA & BI’SA Huruf
Maa (ما) dapat terletak setelah (نعم) dan (بئس) untuk itu dapat
diucapkan (نِعْمَ مَا أَوْ نِعِمَّا) dan (بِئْسَمَا). Contoh: (نِعْمَ
مَا يَقُوْلُ الفَاضِلُ) (إِنْ تُبْدُوْا الصَدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ)
(بِئْسَمَا اِشْتَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ).IV. LAFAZ-LAFAZ YANG DIBERLAKUKAN SEPERTI NI’MA & BI’SA (الألفاظ المشبهة بنعم وبئس) A.
Lafaz (سَاءَ) berlaku sebagai (بئس) Fa’il-nya haruslah isim bersama
(ال). Contoh: (سَاءَ الرَجُلُ زَيْدٌ) atau setidaknya mudhaf pada isim
yang mempunyai (ال). Contoh: (سَاءَ غُلَامُ الرَجُلِ زَيْدٌ) mempunyai
Fa’il dhamir misterius yang menjadi jelas oleh tamyiz setelahnya.
Contoh: (سَاءَ مَثَلًا بِالقَوْمِ الَّذِي كَذَّبُوْا بِآيَاتِنَا).B. Lafaz (لَاحَبَّذَا) juga bisa berlaku sebagai (بئس) untuk menghina maka jadikan (لَاحَبَّدَا زَيْدٌ). Lafaz (حَبَّذَا) berlaku sebagai (نِعْمَ), (حَبَّ) sebagai fi’il madhi dan (ذ) sebagai Fa’il. Contoh: (حَبَّذَا زَيْدٌ)
boleh menjadikan (حَبَّ) sebagai khabar yang didahulukan dan (زيد)
sebagai mubtada’ muakhkhar atau sebagai khabar dari mubtada’ yang
dibuang (حَبَّذَا هُوَ زَيْدٌ). Makhshus yang terletak setelah (ذا)
dalam bentuk apapun baik mufrad, mudzakkar, mu’annats, tatsniyyah atau
jamak. Contoh: (حَبَّذَا زَيْدٌ) (حَبَّذَا الزَيْدَانِ) (حَبَّذَا
الزَيْدُوْنَ). C.
Semua fi’il tsulasti secara mutlak dengan mengikutkan wazan (مضموم
العين) (فَعُلَ) untuk kepentingan makna sanjungan atau penghinaan fi’il
bentukan ini mempunyai ketentuan hukum yang sama dengan (نعم) untuk
menyanjung zaid betapa mulianya. Contoh: (شَرُفَ الرَجُلُ زَيْدٌ). Dan
(بئس) untuk menghina. Contoh: (لَؤُمَ الرَجُلُ). Lafaz (ساء) asalnya
(سَوَأَ) kemudian dipindah ke-Wazan (فَعُلَ) menjadi (سَوُأَ) maka
maknanya menjadi lazim, lalu diberi makna (بئس), maka menjadi lazim dan
jamid. Lafaz yang dibentuk ikut wazan (فَعُلَ) untuk tujuan memuji atau
mencela diisyaratkan pantas dijadikan shighah Ta’ajjubiyah dan
mengandung makna Ta’ajjub. Menurut sebagian ahli bahasa, terdapat tiga
lafaz yang wazan-nya tidak (فَعُلَ), yaitu (سَمِعَ/جَهِلَ/عَلِمَ).
Syarat-syaratnya adalah: (1) Menjadi fi’il ghairu mutasharrif; (2) Hanya
dilakukan pada bentuk madhi-nya saja; (3) Memberi faidah makna memuji
atau mencela; (4) Fa’il-nya harus dibentuk seperti Fa’il-nya (نعم وبئس). V. KETENTUAN-KETENTUAN LAINNYA A.
Setelah menyebutkan (نعم) dan (بئس) serta kedua Fa’il-nya, maka harus
menyebutkan isim yang dibaca rafa’ yang menjadi makhshus-nya (sesuatu
yang ditentukan dengan pujian atau celaan), sedangkan tandanya makhshus
yaitu dijadikan mubtada’, dan fi’il Fa’il-nya menjadi khabar mubtada’.
Contoh: (نِعْمَ الرَجُلُ أَبُوْ بَكْرٍ) (بِئْسَ الرَجُلُ أَبُوْ جَهْلٍ).
Apabila sudah menyebutkan lafaz yang bisa menunjukkan makhshus, maka
diakhir sudah dianggap cukup untuk tidak menyebutkan makhshus. 1. Contoh: (العِلْمُ نِعْمَ المُقْتَنَى وَالمُقْتَفَى) taqdir-nya (نِعْمَ المُقْتَنَى العِلْمُ).2. Contoh: (إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا، نِعْمَ العَبْدُ، إِنَّهُ أَوَّابٌ) taqdir-nya (نِعْمَ العَبْد أَيُّوْبُ)B.
Pembuangan Makhsush. Apabila sudah menyebutkan lafaz yang bisa
menunjukkan pada makhshush, maka diakhir sudah dianggap cukup dengan
tidak menyebutkan makhshush. Contoh: (العِلْمُ نِعْمَ المُقْتَنَىى
وَالمُقْتَفَى) taqdirnya (نِعْمَ المُقْتَنَى العِلْمُ).C. Lafaz (ساء) seperti (بئس) secara makna dan hukum adalah sama, yaitu untuk mencela. Oleh karena itu, Fa’il-nya harus sama. 1. Fa’il bersama Alif Lam. Contoh: (سَاءَ الرَجُلُ زَيْدٌ), artinya, “Sejelek-jelek lelaki adalah Zaid.” 2.
Fa’il-nya berupa lafaz yang di-idhafah-kan pada lafaz yang bersamaan
dengan Alif Lam. Contoh: (سَاءَ غُلَامُ القَوْمِ زَيْدٌ) artinya,
“Sejelek-jeleknya pelayan kaum adalah Zaid.” 3.
Fa’il-nya berupa dhamir mustatir, yang ditafsiri dengan isim nakirah
yang dibaca nashab, sebagai tamyiz. Contoh: (سَاءَ رَجُلًا زَيْدٌ)







0 Comments