Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Eka Wahyu Hestya Budianto
MATERI KEILMUAN ISLAM LENGKAP (klik disini)
BAB 51 : ISIM FI’IL (اسم الفعل) 51.1. PENGERTIAN ISIM FI’IL (تعريف اسم الفعل) Isim fi’il adalah isim mabni yang ketika digunakan semakna
dengan fi’il tetapi tidak menerima tanda fi’il dan tidak bisa
dipengaruhi oleh amil-amil serta bukan merupakan fudhah (kata yang tidak
mengandung makna) 1.2. PEMBAGIAN ISIM FI’IL (أقسام اسم الفعل) A.
Isim Fi’il Murtajal (اسم الفعل المرتجل) adalah kalimah yang mana
pembawaan awal pemakaiannya sebagai Isim Fi’il. Isim Fi’il ini adalah
Sama’i. Pembagiannya yaitu: 1.
Isim fi’il madhi (اسم الفعل الماضي), yaitu isim fi’il yang mengandung
makna fi’il madhi, tetapi tidak bisa kemasukan Ta’, baik Ta’Fa’il atau
Ta’ Ta’nits As-Sakinah. Contoh: i. Lafaz (هَيهَاتَ) artinya
telah jauh (بَعُدَ). Contoh: (هَيهَاتَ الأَمَلُ فِي النَّجَاحِ). ii. Lafaz (شَتَّانَ) artinya
telah berpisah/berpecah (اِفْتَرَقَ). Contoh: (شَتَّانَ الشَجَاعَةُ
وَالجُبْنُ). iii. Lafaz (سَرْعَانَ) artinya telah cepat (سَرُعَ). 2.
Isim fi’il mudhari’ (اسم الفعل المضارع), yaitu isim fi’il yang
mengandung makna fi’il mudhari’, tetapi tidak bisa kemasukan huruf
Jawazim dan Nawashib. Contoh: i. Lafaz (أُفٍّ) artinya aku
mengeluh (أَتَضَجَّرُ). Contoh: (فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ). ii. Lafaz (آهْ) artinya aku mengaduh (أَتَوَجَّعُ). iii. Lafaz (وَيْ) artinya aku
kagum (أَتَعَجَّبُ). Contoh: (وَىْ كَأَنَّهُ لاَ يُفْلِحُ
الْكَافِرُونَ). iv. Lafaz (قَطْ) artinya cukup (يَكْفِي). Contoh: (صَرَفْتُ جُنَيهَينِ فَقَطْ). 3.
Isim fi’il amr (اسم فعل الأمر), yaitu isim fi’il yang mengandung makna
fi’il amr, tetapi tidak bisa kemasukan Nun Taukid. Contoh: i. Lafaz (إِيه) artinya tambahlah (زِدْ). ii. Lafaz (آمِينَ) artinya kabulkanlah (اِسْتَجِبْ). iii. Lafaz (هَيَّا) artinya cepatlah (أَسْرِعْ). iv. Lafaz (صَهْ) artinya diamlah (اُسْكُتْ). v. Lafaz (حَيَّ) artinya
kemarilah (أَقْبِلْ). Contoh: (حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ أَيُّهَا
الرَّجُلُ). vi. Lafaz (هَاكَ) artinya ambillah (خُذْ). vii. Lafaz (عَلَيكَ) artinya berpeganglah (اِلْزَمْ). Contoh: (عليك نفسَك فهذبها). viii. Lafaz (دُونَكَ) artinya ambillah (خُذْ). B.
Isim Fi’il Manqul (اسم الفعل المنقول) adalah kalimah yang dipakai juga
pada selain Isim Fi’il, kemudian ditukil menjadi Isim Fi’il. Isim Fi’il
ini tidaklah datang kecuali untuk amar bukan untuk yang lainnya. Isim
Fi’il adalah Qiyasi. 1. Penukilan itu berupa Jar Majrur. Contoh: i. Lafaz (عَلَيْكَ) artinya harus. ii. Lafaz (إِلَيْكَ) artinya ambillah. iii. Lafaz (دُوْنَكَ) artinya ambillah. iv. Lafaz (مكانَكَ) artinya tetaplah pada tempatmu. v. Lafaz (أمامَكَ) artinya majulah. vi. Lafaz (وراءِكَ) artinya mundurlah. 2. Bisa juga isim fi’il amr dibentuk dengan wazan (فَعَالِ) dari setiap fi’il tsulatsi mutasharrif tam. Contoh: i. Lafaz (حَذَارِ) artinya hati-hati (اِحْذَرِ). Contoh: (حَذَارِ الْأَسَدَ). ii. Lafaz (دَفَاعِ) artinya belalah (اِدْفَعْ). iii. Lafaz (سَمَاعِ) artinya dengarkan (اِسْمَعْ). 3. Berupa mashdar. Contoh: i. Lafaz (رُوَيْدَ) artinya segan. ii. Lafaz (بَلْهَ) artinya cuek. III. KETENTUAN-KETENTUAN LAINNYA (الضوابط الأخرى) A. Macam-macam Isim Fi’il: 1. Lafaz yang wajib di-nakirah-kan. Contoh: lafaz (وَيْهًا) dan (وَاهًا). 2. Lafaz yang wajib di-makrifah-kan. Contoh: lafaz (تَرَكِ) bermakna (اُتْرُكْ); lafaz (نَزَالِ) bermakna (اِنْزِلْ). 3. Lafaz yang boleh di-nakirah-kan atau di-makrifah-kan. Contoh: (صَهْ) (مَهْ). Perbedaannya:i. Apabila diucapkan (صَهٍ),
maka maknanya (اُسْكُتْ سُكُوْتًا) yang dimaksud adalah (اِفْعَلْ
مُطْلَقَ السُكُوْتِ) artinya, “Lakukan diam secara muthlaq dari seluruh
jenis pembicaraan.” ii. Apabila diucapkan (صَهْ),
maka maknanya (اُسْكُتْ سُكُوْتَ المَعْهُوْدِ) artinya, “Diamlah dari
suatu pembicaraan yang tertentu, dan berbicara dengan selainnya.” B. Isim Fi’il beramal seperti Fi’il yang digantikannya. 1. Jika Fi’il yang digantikannya adalah Fi’il Lazim, maka hanya bisa me-rafa’-kan pada Fa’ilnya. Contoh: (هَيْهَاتَ زَيْدٌ). 2.
Jika Fi’il yang digantikannya adalah Fi’il Muta’addi, maka bisa
me-rafa’-kan Fa’il dan men-nashab-kan Maf’ulnya. Contoh: (دَرَاكِ
زَيْدٌا). i. Muta’addi dengan huruf
Ba’. Contoh: (إِذَا ذُكِرَ الصَالِحُوْنَ فَحَيَّههَلَا بِعُمَرَ)
artinya, “Apabila disebutkan orang-orang yang baik maka segeralah
menyebut Umar. ii. Muta’addi dengan huruf ‘Alaa. Contoh: (حَيَّهَلْ عَلَى كَذَا). C.
Ma’mul isim fi’il wajib diakhirkan. Hal ini berbeda dengan Fi’il yaitu
boleh mendahulukan fi’il-nya. Tidak boleh diucapkan (زَيْدًا دَرَاكِ). D.
Isim fi’il adalah isim mabni yang digunakan dalam satu bentuk, baik
untuk mufrad, mutsanna atau jamak. Contoh: (حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
أَيُّهَا الرَّجُلُ) dan (حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ أَيُّهَا الرِّجَالُ). E.
Apabila isim fi’il bertemu dengan kaf khithab. (Contoh: عَلَيكَ,
دُونَكَ, هَاكَ, dan seterusnya…), maka isim tersebut di-tashrif sesuai
dengan mukhathab-nya, kemudian kita katakan: (هَاكَ) untuk kamu,
(هَاكُمْ) untuk kalian laki-laki. Contoh yang lain: (رُوَيْدَكَ)
(رُوَيْدَكِ) (رُوَيْدَكُماَ) (رُوَيْدَكُمْ) (رُوَيْدَكُنَّ) (هاَكَ)
(هاَكِ) (هاَكُماَ) (هاَكُمْ) (هاَكُنَّ) (اِلَيْكَ عَنِّي) (اِلَيْكُماَ
عَنِّي) (اِلَيْكُمْ عَنِّي) (اِلَيْكُنَّ عَنِّي). F.
Isim fi’il menduduki amalnya fi’il yang digantinya sehingga bisa
me-rafa’-kan Fa’il atau me-nashab-kan maf’ul bih. Contoh: (هَيهَاتَ
الأَمَلُ فِي النَّجَاحِ) artinya (بَعُدَ الأَمَلُ فِي النَّجَاحِ). G.
Status Isim Fi’il adalah Sima’i (سماعي) kata pendengaran, artinya
bawaan dari orang Arab. Kecuali ada Isim Fi’il berpola (فَعَالَ)
semisal (قَتَالَ), (نَزَالَ) maka yang seperti ini, di-Qiyas-kan kepada
tashrif Fi’il Tsulatsi yang Mutasharrif tanpa Naqish. H.
Kaf dalam (رُوَيْدَ) dan (هاَكَ) tidaklah lazim (tetap), karena
penuqilan dari masdar atau tanbih telah dikosongkan darinya, sehingga
kaf itu tidaklah menjadi bagian dari kalimah. Oleh karenanya,
diperbolehkan untuk terpisah darinya, sehingga kita ucapkan (رُوَيْدَ
اَخاَكَ) dan (هاَ الْكِتاَبَ). Adapun pada (اِلَيْكَ) dan (دُونَكَ) dan
semisalnya, yaitu isim fi’il yang dinuqil dari huruf jer atau dzaraf,
maka kaf tersebut adalah lazim, karena penuqilan telah terjadi dengan
disertai kaf sehingga kaf dan yang menyertainya menjadi satu kalimah
yang diinginkan untuk amar atau perintah, oleh karenanya tidak
diperbolehkan untuk melepas dari kaf. I.
Diperbolehkan pada (هاَ) untuk dikosongkan dari kaf, sehingga dia
digunakan dengan satu lafal untuk semuanya. Dan jika dia diberi kaf,
maka dia akan ter-tashrif sesuai dengan mukhathab-nya, dan diperbolehkan
untuk diucapkan (هاَءَ) dengan satu lafal untuk semuanya. Namun,
menurut qaul ashah adalah ter-tashrif-nya hamzah-nya, sehingga diucapkan
(هاَءَ) untuk mufrad mudzakar, (هاَءِ) untuk mufradah mu’annats,
(هاَؤُماَ) untuk tatsniyyah, (هاَؤُمْ) untuk jamak mudzakar, (هاَؤُنَّ)
untuk jamak mu’annats. J. Persamaan Isim Fi’il & Fi’il: 1. Sama-sama menunjukkan makna kejadian. 2. Isim fi’il pada umumnya berbentuk sesuai dengan fi’il asal yang muta’addi dan lazim. K. Perbedaan Isim Fi’il & Fi’il: 1. Isim Fi’il tidak boleh menampakkan dhamirnya, sedangkan fi’il boleh menampakkan dhamirnya. 2. Isim Fi’il tidak boleh mendahului ma’mul-nya, sedangkan fi’il boleh. 3. Boleh men-taukid-kan fi’il yang taukid lafzi dengan isim fi’il, tetapi tidak boleh men-taukid-kan isim fi’il dengan fi’il. 4.
Fi’il jika menunjukkan makna perintah, maka beleh dibaca nashab pada
fi’il mudhari’ yang menjadi jawabnya, tetapi tidak boleh membaca nashab
pada fi’il mudhari’ yang menjadi jawabnya isim fi’il. 5.
Isim fi’il hukumnya tidak bisa di-tashrif, maka bentuk lafaznya tidak
berbeda pada penggunaan di semua zaman/waktu, berbeda dengan fi’il yang
berubah-ubah berdasarkan waktu. 6.
Isim fi’il tidak menerima tanda-tanda fi’il, seperti: amil nawashib,
amil jawazim, nun taukid, ya’ mukhathabah dan ta’ fa’il.









0 Comments