BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Eka Wahyu Hestya Budianto

ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢

Artinya: “Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.”

Abu Ja’far bin Jarir mengatakan, Alhamdulillah berarti syukur kepada Allah Ta’ala semata dan bukan kepada sesembahan selain-Nya, bukan juga kepada makhluk yang telah diciptakan-Nya, atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang tidak terhingga jumlahnya, dan tidak ada seorang pun selain Dia yang mengetahui jumlahnya. Berupa kemudahan berbagai sarana untuk menaati-Nya dan anugerah kekuatan fisik agar dapat menunaikan kewajiban-kewajiban-Nya. Selain itu, pemberian rezeki kepada mereka di dunia, serta pelimpahan berbagai nikmat dalam kehidupan, yang sama sekali mereka tidak memiliki hak atas itu, juga sebagai peringatan dan seruan kepada mereka akan sebab-sebab segala kenikmatan abadi. Hanya bagi Allah Ta’ala segala puji, baik di awal maupun di akhir.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Alhamdulillah merupakan pujian yang disampaikan Allah Ta’ala untuk diri-Nya. Di dalamnya terkandung perintah kepada hamba-hamba-Nya supaya mereka memuji-Nya. Seolah-olah Dia mengatakan, “Ucapkanlah Alhamdulillah.”

Kemudian Ibnu Jarir menyebutkan, telah dikenal di kalangan para ulama muta’akhkhirin bahwa al-Hamdu adalah pujian melalui ucapan kepada yang berhak mendapatkan pujian disertai penyebutan segala sifat-sifat baik yang berkenaan dengan dirinya maupun berkenaan dengan pihak lain. Adapun asy-Syukru tiada lain kecuali dilakukan terhadap sifat-sifat yang berkenaan dengan selainnya, yang disampaikan melalui hati, lisan dan anggota badan. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang penyair:

أَفَادَتْكُمُ النَّعْمَاءُ مِنِّي ثَلَاثَةً: ... يَدِي وَلِسَانِي وَالضَّمِيرُ الْمُحَجَّبَا

Artinya: “Nikmat paling berharga yang telah kalian peroleh dariku ada tiga macam. Yaitu melalui kedua tanganku, lisanku dan hatiku yang tidak tampak ini.”

Namun demikian, mereka berbeda pendapat mengenai mana yang lebih umum, al-Hamdu atau asy-Syukru. Mengenai hal ini terdapat dua pendapat. Dan setelah diteliti antara keduanya terdapat keumuman dan kekhususan. Al-Hamdu lebih umum daripada asy-Syukru, karena terjadi pada sifat-sifat yang berkenaan dengan diri sendiri dan juga pihak lain, misalnya anda katakana, “Aku memujinya (al-Hamdu) karena sifatnya yang kesatria dank arena kedermawanannya.” Tetapi juga lebih khusus, karena hanya bias diungkapkan melalui ucapan. Sedangkan asy-Syukru lebih umum daripada al-Hamdu, karena ia dapat diungkapkan melalui ucapan, perbuatan dan juga niat. Tetapi lebih khusus, karena tidak bisa dikatakan bahwa aku berterima kasih kepadanya atas sifatnya yang kesatria, namun bisa dikatakan aku berterima kasih kepadanya atas kedermawanan dan kebaikannya kepadaku. Demikian itu yang disimpulkan oleh sebagian ulama muta’akhkhirin.

Diriwayatkan dari Al-Aswad bin Sari:

حَدَّثَنَا رُوحٌ، حَدَّثَنَا عَوْفٌ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ سَرِيعٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا أُنْشِدُكَ مَحَامِدَ حَمِدْتُ بِهَا رَبِّي، تَبَارَكَ وَتَعَالَى؟ فَقَالَ: "أَمَا إِنَّ رَبَّكَ يُحِبُّ الْحَمْدَ"

Artinya: “Aku berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, maukah engkau aku puji dengan berbagai pujian seperti aku sampaikan untuk Rabb-Ku, Allah Ta’ala?” Maka beliau menjawab, “Adapun (sesungguhnya) Rabbmu menyukai pujian (al-Hamdu).” (HR. Imam Ahmad dan Nasai)

Diriwayatkan At-Tirmidzi (hasan gharib), An-Nasai dan Ibnu Majah dari Jabir bin Abdullah, Rasulullah bersabda:

«أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ»

Artinya: “Sebaik-baik dzikir adalah kalimat Laa ilaaha illallaah, dan sebaik-baik doa adalah Alhamdulillah.”

Diriwayatkan Ibnu Majah dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

«مَا أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَى عَبْدٍ نِعْمَةً فقال: الحمد الله إِلَّا كَانَ الَّذِي أَعْطَى أَفْضَلَ مِمَّا أَخَذَ»

Artinya: “Allah tidak menganugerahkan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu ia mengucapkan Alhamdulillah, melainkan apa yang diberikan-Nya itu lebih baik daripada yang diambil-Nya.”

Huruf “alif lam” pada kata al-Hamdu dimaksudkan untuk melengkapi bahwa segala macam jenis dan bentuk pujian itu hanya untuk Allah Ta’ala semata.

Kata “Rabb” adalah pemilik, penguasa dan pengendali. Menurut Bahasa, kata Rabb ditujukan kepada tuan dan kepada yang berbuat untuk perbaikan. Semuanya itu benar bagi Allah Ta’ala. Kata “Rabb” tidak digunakan untuk selain dari Allah Ta’ala kecuali disambung dengan kata lain setelahnya, misalnya “robbu ad-dar” (pemilik rumah). Sedangkan kata “Rabb” (secara mutlak) hanya boleh digunakan untuk Allah Ta’ala.

Ada yang mengatakan bahwa “Rabb” itu merupakan nama yang agung (al-Ismu al-A’zham). Sedangkan “Al-Alamin” adalah bentuk jama’ dari kata “Alam” berarti berbagai macam makhluk yang ada di langit, bumi, daratan maupun lautan. Dan setiap zaman atau kurun disebut juga alam.

Imam Az-Zajjaj mengatakan bahwa “Al-‘Alam” berarti semua yang diciptakan oleh Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat. Sedangkan Imam Al-Qurthubiy mengatakan bahwa apa yang dikatakan az-Zajjaj itulah yang benar karena mencakup seluruh alam (dunia dan akhirat).

Menurut Imam Ibnu Katsir, “Al-‘Alam” berasala dari kata “Al-‘Alaamah” karena alam merupakan bukti yang menunjukkan adanya Pencipta serta keesaan-Nya. Sebagaimana Imam Ibnu al-Mu’taz pernah mengatakan: Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin seorang bisa mendurkahai Rabb atau mengingkari-Nya, padahal dalam setiap segala sesuatu terdapat ayat untuk-Nya yang menunjukkan bahwa Dia adalah Esa.

PEMBAHASAN LENGKAP TAFSIR ALQURAN & ASBABUN NUZUL


Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab



The Indonesiana Center - Markaz BSI (Bait Syariah Indonesia)