BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Eka Wahyu Hestya Budianto


وَٱتَّقُواْ يَوۡمٗا لَّا تَجۡزِي نَفۡسٌ عَن نَّفۡسٖ شَيۡ‍ٔٗا وَلَا يُقۡبَلُ مِنۡهَا شَفَٰعَةٞ وَلَا يُؤۡخَذُ مِنۡهَا عَدۡلٞ وَلَا هُمۡ يُنصَرُونَ ٤٨


Artinya: “Dan jagalah diri kalian dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat membela orang lain, walau sedikit pun, dan (begitu pula) tidak diterima syafaat dan tebusan darinya, dan tidaklah mereka akan ditolong.”

Firman Allah Ta’ala (واتقوا يوما) artinya, setelah Allah Ta’ala mengingkatkan mereka akan nikmat-nikmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada mereka pada ayat sebelumnya, kemudian hal itu diikuti dengan peringatan yang menyatakan akan kekuasaan pembalasan Allah Ta’ala terhadap mereka kelak di hari kiamat.

Firman-Nya (لا تجزي نفس عن نفس شيئا) artinya, tiada seorang pun yang dapat menolong orang lain. Makna ayat ini sama dengan ayat lain dalam Surah Al-An’am ayat 164 yang artinya: “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” Dan juga Surah ‘Abasa ayat 37 yang artinya: “Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” Serta dalam Surah Luqman ayat 33 yang artinya: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhan kalian dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikit pun.” Hal ini merupakan kedudukan paling jelas, mengingat disebutkan bahwa seorang ayah dan anaknya masing-masing dari kedua belah pihak tidak dapat menolong pihak yang lain barang sedikit pun.

Firman-Nya (ولا يقبل منها شفاعة) artinya, dari orang-orang kafir. Sebagaimana dalam Surah Al-Muddatstsir ayat 48 yang artinya: “Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat dari orang-orang yang memberi syafaat.” Dan juga firman-Nya kepada penghuni neraka dalam Surah Asy-Syuraa ayat 100-101 yang artinya: “Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab.”

Firman-Nya (ولا يؤخذ منها عدل) artinya, tidak diterima darinya suatu tebusan pun, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali Imran ayat 91 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seorang pun di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu.” Dan Surah Al-Maidah ayat 36 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang di bumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih.” Serta dalam Surah Al-An’aam ayat 70 yang artinya: “Dan jika ia menebus dengan segala macam tebusan pun, niscaya tidak akan diterima darinya.” Demikian pula dalam firman-Nya dalam Surah Al-Hadid ayat 15 yang artinya: “Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kalian dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kalian ialah neraka. Dan nerakalah tempat berlindung kalian.”

Melalui ayat ini Allah Ta’ala memberitahukan bahwa mereka tidak mau beriman kepada Rasul-Nya, tidak mau mengikuti apa yang telah diembankan oleh Allah Ta’ala kepadanya, dan mereka menemui Allah Ta’ala di hari kiamat dalam keadaan masih tetap dalam kekafiran. Maka sesungguhnya tidak bermanfaat bagi mereka pertolongan seorang karib pun, dan tidak diterima pula syafaat dari seseorang yang berkedudukan, serta tidak dapat diterima dari mereka suatu tebusan pun sekalipun tebusan itu berupa emas sepenuh bumi, seperti yang diungkapkan oleh Allah Ta’ala dalam Surah Al-Baqarah ayat 254 yang artinya: “Sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi persahabatan yang akrab dan tidak ada lagi syafaat.”

Firman-Nya (ولا هم ينصرون) artinya, tidak ada seorang pun yang marah demi (membela) mereka, lalu memberikan pertolongan dan menyelamatkan mereka dari azab Allah Ta’ala. Sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bahwa kaum kerabat dan orang yang mempunyai kehormatan tidak akan merasa kasihan kepada mereka, serta tidak akan diterima tebusan darinya. Tidak ada lagi seorang penolong baik dari kalangan mereka sendiri maupun lainnya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surah Ath-Thariq ayat 10 yang artinya: “Maka sekali-kali tiada bagi manusia itu suatu kekuatan pun dan tidak (pula) seorang penolong.” Ayat ini berarti bahwa Allah Ta’ala tidak akan menerima tebusan dan syafaat dari orang-orang yang kafir kepada-Nya, serta tidak ada seorang pun yang dapat menyelamatkan dan menghindarkan mereka dari azab-Nya.


PEMBAHASAN LENGKAP TAFSIR ALQURAN & ASBABUN NUZUL


Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab



The Indonesiana Center - Markaz BSI (Bait Syariah Indonesia)