BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Eka Wahyu Hestya Budianto
 
 
۞أَتَأۡمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلۡبِرِّ وَتَنسَوۡنَ أَنفُسَكُمۡ وَأَنتُمۡ تَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ ٤٤

Artinya: “Mengapa kalian suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri kalian sendiri, padahal kalian membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kalian berpikir?”

Asbabun Nuzul ayat ini yaitu: “Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa turunnya ayat tersebut tentang seorang Yahudi Madinah yang pada waktu itu berkata kepada mantunya, kaum kerabatnya, dan saudara sepersusuan yang telah masuk Islam: ‘Tetaplah kamu pada agama kamu anut (Islam) dan apa-apa yang diperintahkan oleh Muhammad karena perintahnya benar.’ Ia menyuruh orang lain berbuat baik, tapi dirinya sendiri tidak mengerjakannya. Ayat ini sebagai peringatan kepada orang yang melakukan perbuatan seperti itu.” (Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dan Ats-Tsa’labi, dari Al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu Abbas)

Allah bertanya, “Wahai sekalian ahlu kitab, apakah kalian pantas menyuruh manusia berbuat kebaikan, sedang kalian melupakan diri sendiri. Kalian tidak melakukan apa yang diperintahkan itu, padahal kalian membaca Al-Kitab dan mengetahui kandungannya yang berisi ancaman terhadap orang yang mengabaikan perintah Allah Ta’ala? Apakah kalian tidak memikirkan apa yang kalian lakukan untuk diri kalian sendiri itu, sehingga kalian terjaga dari tidur kalian dan terbuka mata kalian dari kebutaan?”
Abu Darda’ mengatakan, seseorang tidak memiliki pemahaman yang mendalam sehingga ia mencela orang lain karena Allah Ta’ala, kemudia ia mengintrospeksi dirinya sendiri, akhirnya ia lebih mencela dirinya sendiri. Yang dimaksud, bukan celaan terhadap usaha mereka menyuruh berbuat kebajikan, namun yang wajib dan lebih patut baginya adalah mengerjakan kebajikan bersama orang-orang yang ia perintahkan dan tidak menyelisihi mereka. Sebagaimana kata Nabi Syu’aib ‘alaihi as-salam dalam Surah Huud ayat 88 yang artinya: “Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kalian darinya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” Dengan demikian, amar ma’ruf (menyuruh berbuat baik) dan pengamalannya merupakan suatu kewajiban yang tidak gugur salah satu dari keduanya dengan meninggalkan yang lainnya. Demikian menurut pendapat yang paling sahih dari para ulama salaf maupun khalaf. Yang benar, orang alim hendaknya menyuruh berbuat baik meskipun ia tidak mengamalkannya atau mencegah kemungkaran meskipun ia sendiri mengerjakannya.

Imam Malik meriwayatkan dari Rabi’ah katanya, aku pernah mendengar Sa’id bin Jubair mengatakan: “Jika seseorang tidak menyuruh yang ma’ruf dan tidak mencegah kemungkaran sampai pada dirinya tidak terdapat sesuatu (dosa/cela) apapun, maka tidak akan ada seorang pun yang menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.” Malik berkata, “Benar demikian, siapakah orang yang pada dirinya tidak terdapat sesuatu apa pun?” Ibnu Katsir mengatakan, “Namun seorang alim dengan keadaan demikian itu tercela karena meninggalkan ketaatan dan mengerjakan kemaksiatan sedang ia mengetahui, dan tindakannya menyalahi perintah dan larangan itu berdasarkan pada kesadaran. Dan pengetahuannya akan hal tersebut. Sesungguhnya orang yang mengetahui tidak sama dengan orang yang tidak mengetahui. Oleh karena itu, ada beberapa hadis yang memaparkan ancaman keras terhadap hal itu.” Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Anas bin Malik, katanya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

"مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي عَلَى أُنَاسٍ تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ وَأَلْسِنَتُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ. قُلْتُ: مَنْ هَؤُلَاءِ يَا جِبْرِيلُ؟ " قَالَ: هَؤُلَاءِ خُطَبَاءُ أُمَّتِكَ، الَّذِينَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ.

Artinya: “Di malam aku diisrakan aku bersua dengan orang-orang yang bibir dan lidah mereka digunting dengan gunting-gunting dari api, lalu aku bertanya, "Siapakah mereka itu, hai Jibril?" Jibril menjawab, "Mereka adalah tukang ceramah umatmu yang memerintahkan kepada orang lain untuk melakukan ketaatan, sedangkan mereka melupakan dirinya sendiri." (HR. Ibnu Majah, Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih)

Imam Ahmad meriwayatkan, pernah dikatakan kepada Usamah, tidaklah engkau menasehati ‘Utsman? Maka Usamah berkata, bukankah kalian tahu bahwa aku tidak menasehatinya melainkan akan kusampaikan kepada kalian? Aku pasti menasehatinya tanpa menimbulkan masalah yang aku sangat berharap tidak menjadi orang pertama yang membukanya. Demi Allah Ta’ala aku tidak akan mengatakan kepada seseorang, “Sesungguhnya engkau ini sebaik-baik manusia,” meskipun di hadapanku itu seorang penguasa, karena aku telah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka orang-orang pun bertanya, “Apa yang engkau dengar dari sabdanya itu?” Usamah menjawab, beliau telah bersabda:

"يُجَاء بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ بِهِ أَقْتَابُهُ ، فَيَدُورُ بِهَا فِي النَّارِ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيُطِيفُ بِهِ أهلُ النَّارِ، فَيَقُولُونَ: يَا فُلَانُ مَا أَصَابَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ"

Artinya: “Kelak di hari kiamat ada seorang lelaki yang didatangkan, lalu dicampakkan ke dalam neraka, maka berhamburanlah isi perutnya, lalu berputar-putar seraya membawa isi perutnya ke dalam neraka sebagaimana keledai berputar dengan penggilingannya. Maka penghuni neraka mengelilinginya dan mengatakan, "Hai Fulan, apakah gerangan yang telah menimpamu? Bukankah kamu dahulu memerintahkan kepada kami untuk berbuat yang makruf dan melarang kami dari perbuatan yang mungkar?" Lelaki itu menjawab, "Dahulu aku memerintahkan kalian kepada perkara yang makruf, tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya; dan aku melarang kalian melakukan perbuatan yang mungkar, tetapi aku sendiri mengerjakannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia pernah didatangi oleh seseorang seraya berkata: “Hai Ibnu Abbas, Sungguh aku ingin menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran.” Tanya Ibnu Abbas: “Apakah engkau telah menyampaikannya?” Ia menjawab: “Aku baru ingin melakukannya.” Kemudian Ibnu Abbas mengatakan: “Jika engkau tidak khawatir akan terbongkar aib dirimu dengan tiga ayat di dalam Alquran, maka kerjakanlah.” Ia pun bertanya: “Apa saja ketiga ayat tersebut?” Ibnu Abbas menjawab, firman Allah Ta’ala (أتأمرون الناس بالبر وتنسون أنفسكم) apakah engkau telah mengerjakan hal itu dengan sempurna?” tanya Ibnu Abbas. Orang itu menjawab: “Belum.” Kata Ibnu Abbas: “Lalu ayat kedua, firman Allah Ta’ala (لم تقولون مالا تفعلون كبر مقتا عند الله أن تقولوا مالا تفعلون) apakah engkau telah mengerjakan hal itu dengan sempurna?” Sahutnya: “Belum.” Kata Ibnu Abbas: “Lalu ayat ketiga, yaitu ucapa seorang hamba yang salih, Nabi Syu’aib. Apakah engkau telah mengerjakan hal itu dengan sempurna?” Ia pun menjawab: “Belum.” Maka Ibnu Abbas berkata: “Mulailah dari dirimu sendiri.” (HR. Ibnu Mardawaih dalam tafsirnya)


PEMBAHASAN LENGKAP TAFSIR ALQURAN & ASBABUN NUZUL


Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab



The Indonesiana Center - Markaz BSI (Bait Syariah Indonesia)