Al-Faqiir ilaa Ridhaa Rabbihi Eka Wahyu Hestya Budianto
(1) Pengertian Kalam Khabari (Khabar & Contoh Kalam Khabari); (2) Pembagian Kalam Khabari (Jumlah Fi’liyyah & Jumlah Ismiyyah beserta fungsinya); (3) Tujuan Kalam Khabari (Faedah Al-Khabar & Lazim Al-Faedah serta Faedah Lainnya); (4) Jenis-Jenis Kalam Khabari (Ibtida’i, Thalabi & Inkari); (5) Pengertian Deviasi Kalam Khabari; (6) Macam-Macam Deviasi Kalam Khabari (Kalam Jahil Untuk Mukhathab Alim, Kalam Thalabi untuk Mukhathab Khali Al-Dzihni, Kalam Inkar untuk Mukhathab Ghair Munkir, Kalam Inkar untuk Mukhathab Mutaraddid, Kalam Ibtida’i untuk Mukhathab Munkir & Kalam Thalabi untuk Mukhathab Munkir).
Wallahu Subhaanahu wa Ta’aala A’lamu Bi Ash-Shawaab
##########
MATERI KEILMUAN ISLAM LENGKAP (klik disini)
MATERI KEILMUAN ISLAM LENGKAP (klik disini)
Artikel Bebas - Tafsir - Ulumul Qur'an - Hadis - Ulumul Hadis - Fikih - Ushul Fikih - Akidah - Nahwu - Sharaf - Balaghah - Tarikh Islam - Sirah Nabawiyah - Tasawuf/Adab - Mantiq - TOAFL
##########
BAB 2 : KALAM KHABARI (الكلام الخبري)I. PENGERTIAN KALAM KHABARI (تعريف الكلام الخبري)Khabar ialah (ما يحتمل الصدق والكذب لذاته) pembicaraan yang mengandung kemungkinan benar atau bohong semata-mata dilihat dari pembicaraannya itu sendiri. Jika seseorang mengucapkan suatu kalimat (kalâm) yang mempunyai pengertian yang sempurna, setelah itu kita bisa menilai bahwa kalimat tersebut benar atau salah maka kita bisa menetapkan bahwa kalimat tersebut merupakan Kalâm Khabar. Dikatakan benar jika maknanya sesuai dengan realita, dan dikatakan dusta (kadzb) jika maknanya bertentangan dengan realita.Contoh Kalam Khabari: (قَالَ الطَالِبُ: لَنْ يَحْضُرَ الأُسْتَاذُ أَحْمَدُ فِي المُنَاقَشَةِ غَدًا). Ucapan mahasiswa di atas bisa dikategorikan Kalâm Khabari. Setelah mahasiswa tersebut mengucapkan kalimat itu kita bisa melihat apakah ucapannya benar atau salah. Jika ternyata ustadz Ahmad keesokan harinya tidak datang dalam perkuliahan, maka ucapan mahasiswa tersebut benar. Sedangkan jika ternyata keesokan harinya ustadz Ahmad datang pada perkuliahan, maka kalimat tersebut tidak benar atau dusta.II. PEMBAGIAN KALAM KHABARI (أقسام الكلام الخبري)Jumlah Fi’liyyah (الجملة الفعلية). Biasanya digunakan (التجدد والحدوث) untuk meletakkan suatu pekerjaan di dalam zaman tertentu tapi secara ringkas (tidak butuh lafaz bemakna zaman lagi). Contoh ketika kita akan memberitahukan Khabar kedatangannya Zaid dalam zaman tertentu (misal zaman yang sudah lewat), maka diucapkan (جاء زيد). Dan ketika hendak memberitahukan keberadaan Zaid yang sebentar lagi akan datang, maka diucapkan (يجيء زيد).Jumlah Ismiyyah (الجملة الاسمية). Penggunaannya adalah: Berfungsi hanya sekedar ingin menetapkan Musnad pada Musnad Ilaihi saja, tidak memandang kapan pekerjaan tersebut terjadi. Contoh ketika kita hanya sekedar memberi tahu mengenai berdirinya Zaid saja, tidak bermaksud kapan berdirinya, maka diucapkan (زيد قائم).Berfungsi (الثبوت والدوام) menunjukkan pengertian yang kekal dan tetap. Contoh: (الشَمْسُ مُضِيْئَةٌ) artinya matahari adalah sesuau yang bersinar. Maksudnya menyinari adalah hal kekal pada matahari.Berfungsi (الاستمرار والدوام) menunjukkan berkelanjutan dan tetap. Contoh: (وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ) artinya “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.”III. TUJUAN KALAM KHABARI (أغراض الكلام الخبري)Setiap ungkapan yang dituturkan oleh seseorang pasti mempunyai tujuan tertentu, yaitu:Faedah Al-Khabar (إفادة الخبر), yaitu (إفادةُ المخاطبِ الحكمَ الذي تضمنتْهُ الجملةُ، إذا كان جاهلاً له) suatu Kalam Khabari yang diucapkan kepada orang yang belum tahu sama sekali isi perkataan tersebut. Contoh: Kalimat Khabar: (كَانَ عُمَرُ بْنِ عَبْدِ العَزِيْزِ لَا يَأْخُذُ مِنْ بَيْتِ المَالِ شَيْئًا وَلَا يَجْزِي عَلَى نَفْسِهِ مِنَ الفَيْءِ دِرْهَمًا). Pada kalimat di atas, Mutakallim ingin memberi tahu kepada Mukhatab bahwa Umar bin Abdul Aziz tidak pernah mengambil sedikit pun harta dari Baitul Mal. Mutakallim berpraduga bahwa Mukhatab tidak mengetahui hukum yang ada pada kalimat tersebut. Kalimat Khabar: (وُلِدَ النَبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ الفِيْلِ، وَأُوْحِىَ إِلَيْهِ فِي سِنِّ الأَرْبَعِيْنَ، وَأَقَامَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً، وَبِالمَدِيْنَةِ عَشْرًا).Lazim Al-Faedah (لازم الفائدة), yaitu (إفادة المخاطب أن المتكلم عالم أيضا بأنه يعلم الخبر) suatu Kalam Khabari yang diucapkan kepada orang yang sudah mengetahui isi dari pembicaraan tersebut, dengan tujuan agar orang itu tidak mengira bahwa si pembicara tidak tahu. Contoh: (ذَهَبْتَ إِلَى الجَامِعَةِ مُتَأَخِّرًا).Tujuan-tujuan lainnya yang merupakan pengembangan dari tujuan semula:Minta dikasihi (الاسترحام والاستعطاف). Dari segi bentuknya, Kalam ini berbentuk Khabar/berita, akan tetapi dari segi tujuannya, Mutakallim ingin dikasihi oleh Mukhatab. Contoh pada doa Nabi Musa dalam Alquran: (رَبِّ إِنِّي لَمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٍ).Menggerakkan semangat menuju apa yang harus digapai (تحريكُ الهمة إلى ما يلزم تحصيله). Contoh: (لَيْسَ سَوَاءً عَالِمٌ وَجَهُوْلٌ).Memperlihatkan kelemahan (إظهار الضعف والخشوع). Contoh doa Nabi Zakaria dalam Alquran: (رَبِّي إِنِّي وَهَنَ العَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَأْسُ شَيْبًا).Memperlihatkan penyesalan (إظهار التحسر والتحزن). Contoh doa Imran bapaknya Maryam dalam Alquran: (رَبِّ إِنِّي وَضَعَتْهَا أُنْثَى وَاللهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ).Memperlihatkan kesenangan dengan yang datang, gembira dengan yang sudah lalu (إظهار الفرح بمقبل - والشماتة بمدب). Contoh: (جَاءَ الحَقُّ وَزَهَقَ البَاطِلُ).Menjelekkan (التوبيخ). Contoh: (للعاثر: (الشمس طالعةٌ)).Peringatan dengan apa antara kedudukan dari tingkatan (التَّذكير بما بين المراتب من التَّفاوت). Contoh: (لَا يَسْتَوِي كَسْلَانُ وَنَشِيْطٌ).Peringatan disertai kewaspadaan (التحذير). Contoh: (أبغضُ الحَلَالِ إِلَى اللهِ الطَلَاقُ).Sombong (الفخر). Contoh perkataan Amru bin Kalsum: (إِذَا بَلَغَ الفِطَامُ لَنَا صَبِيٌّ ... تَخَرَّ لَهُ الجَبَائِرُ سَاجِدِيْنَا).Pujian (المدح). Contoh: (فَإِنَّكَ شَمْسٌ وَالمُلُوْكُ كَوَاكِبٌ إِذَا طَلَعَتْ لَمْ يَبْدُ مِنْهُنَّ كَوْكَبُ).Dorongan kerja keras (الحث على السعي والجد). Dari segi bentuk dan isinya Kalâm ini bersifat Khabari (pemberitahuan), akan tetapi maksud Mutakallim mengucapkan ungkapan tersebut agar Mukhâthab bekerja keras. Contoh Kalâm Khabari untuk tujuan ini adalah surat Thahir bin Husain kepada Abbas bin Musa Al-Hadi yang terlambat membayar upeti. (لَيْسَ أَخُو الحَاجَاتِ مَنْ بَاتَ نَائِمًا ... وَلَكِنْ أَخُوْهَا مَنْ يَبِيْتُ عَلَى وَجَلْ).IV. JENIS-JENIS KALAM KHABARI (أنواع الكلام الخبري)Kalâm Khabari adalah kalimat yang diungkapkan untuk memberitahu sesuatu atau beberapa hal kepada Mukhâthab. Untuk efektifitas penyampaikan suatu pesan perlu dipertimbangkan kondisi Mukhatab. Ada tiga keadaan Mukhatab yang perlu dipertimbangkan dalam mengungkapkan Kalam Khabari, yaitu:Kalam Khabari Ibtida’i: Mukhatab yang belum tahu apa-apa (خالي الذهن), yaitu keadaan Mukhatab yang belum tahu sedikit pun tentang informasi yang disampaikan. Mukhatab diperkirakan akan menerima dan tidak ragu-ragu tentang informasi yang akan disampaikan. Oleh karena itu, tidak diperlukan Taukid dalam pengungkapannya. Contoh: (السَيَّارَةُ سَاقِطَةٌ فِي الوَادِي).Kalam Khabari Thalabi: Mukhatab yang ragu-ragu (متررد الذهن). Jika Mukhatab diperkirakan ragu-ragu dengan informasi yang akan disampaikan, maka perlu diperkuat dengan Taukit. Keraguan Mukhatab bisa disebabkan dia mempunyai informasi lain yang berbeda dengan informasi lain yang berbeda dengan informasi yang disampaikan, atau karena keadaan Mutakallim yang kurang meyakinkan. Untuk menghadapi Mukhathab jenis ini diperlukan Adat Taukid seperti (إن – أن – قد - ل). Contoh: (إِنَّ السَيَّارَةَ سَاقِطَةٌ)Kalâm Khabari Inkâri: Mukhatab yang menolak Khabar (إنكاري). Kadang juga terjadi Mukhâthab yang secara terang-terangan menolak informasi yang kita sampaikan. Penolakan tersebut mungkin terjadi karena informasi yang kita sampaikan bertentangan dengan informasi yang dimilikinya. Hal ini juga bisa terjadi karena dia tidak mempercayai kepada kita. Untuk itu diperlukan Adat Taukîd lebih dari satu untuk memperkuat pernyataannya. Contoh: (وَاللهَ إَنَّ السَيَّارَةَ لَسَاقِطَةٌ)Dari paparan di atas tampak bahwa penggunaan Taukid dalam suatu Kalam mempunyai implikasi terhadap makna. Setiap penambahan kata pada suatu kalimat akan mempunyai implikasi terhadap maknanya. Seorang filsuf Ya’qub bin Ishaq Al-Kindi bertanya kepada Abu Abbas Muhammad bin Yazid Al-Mubarrid, ”Saya menemukan sesuatu yang sia-sia dalam ungkapan Arab. Orang-orang berkata: (عَبْدُ اللهِ قَائِمٌ – وَإِنَّ عَبْدُ اللهِ قَائِمٌ – وَإِنَّ عَبْدَ اللهِ لَقَائِمٌ). Makna kalimat-kalimat tersebut sama. Abu Al-Abbas Al-Mubarrid berkata: “Ketiga kalimat tersebut tidak sama artinya. Kalimat pertama (عَبْدُ اللهِ قَائِمٌ) merupakan informasi mengenai berdirinya Abdullah. Kalimat kedua (وَإِنَّ عَبْدُ اللهِ قَائِمٌ) merupakan jawaban dari pertanyaan seseorang. Sedangkan kalimat ketiga (وَإِنَّ عَبْدَ اللهِ لَقَائِمٌ) merupakan jawaban atas keingkaran orang yang menolaknya.Terdapat beberapa Alat Taukid untuk men-taukid-kan Khabar:Huruf (إِنَّ) dan (أَنَّ)Lafaz Qasam (القسم)Lam Ibtida’ (لام الابتداء)Dua Nun Taukid (نونا التوكيد)Huruf Tanbih (أحرف التنبيه)Huruf Zaidah (الحروف الزائدة)Huruf Qad (قد)Huruf Amma Syarthiyyah (أما الشرطية)Contoh-contohnya: (لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ).V. PENGERTIAN DEVIASI KALAM KHABARISeperti telah dijelaskan di muka bentuk-bentuk Kalâm Khabari jika dikaitkan dengan keadaan Mukhâthab ada tiga jenis, yaitu Ibtidâi, Thalabi, dan Inkâri. Pada Kalâm Ibtidâi tidak memerlukan Taukîd karena Kalâm ini diperuntukkan bagi Mukhâthab yang Khâlî Al-Dzihni (tidak mempunyai pengetahuan tentang hukum yang disampaikan). Pada Kalâm Thalabi, Mutakallim menambahkan satu huruf Taukîd untuk menguatkan pernyataannya, sehingga Mukhâthab yang ragu-ragu bisa menerimanya. Sedangkan pada Kalâm Inkâri, Mutakallim perlu menggunakan dua Taukîd untuk memperkuat pernyataannya, karena Mukhâthab yang dihadapinya orang yang menolak pernyataan kita (Munkir). Namun demikian dalam praktek berbahasa keadaan tersebut tidak selamanya konstan. Ketika berbicara dengan Mukhâthab yang Khâlî Al-Dzihni kadang digunakan Taukîd. Atau juga sebaliknya seseorang tidak menggunakan Taukîd pada saat dibutuhkan, yaitu ketika ia berbicara dengan seorang yang Inkar.VI. MACAM-MACAM DEVIASI KALAM KHABARI (إخراج الكلام إخراجاً على مقتضى ظاهر الحال)(تنزيل العالم بفائدة الخبر، أو لازمها، وبهما معاً - منزلة الجاهلِ بذلك) Kalam Jahil digunakan untuk Mukhathab Alim dengan Faidah Khabar atau Lazim Faidah atau dengan keduanya karena tidak melaksanakan akan kewajibannya atas ilmunya. Contoh perkataan kepada orang yang mengetahui kewajiban salat tetapi ia tidak melaksanakannya: (الصلاة واجبة).(تنزيل خالي الذهن منزلة السائل المتردد) Kalam Thalabi digunakan untuk Mukhathab Khali Al-Dzihni apabila didahulukan dalam suatu perkataan yang menunjukkan kepada hukum Khabar. Contoh: Surah Hud ayat 37: (وَلَا تُخَاطِبْنِي فِي الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا إِنَّهُمْ مُغْرَقُوْنَ). Pada ayat ini, Mukhathab-nya adalah Nabi Nuh. Ia sebagai Khali Al-Dzihni karena ia pasti menerima apa yang Allah Ta’ala putuskan. Namun di sini Allah Ta’ala menggunakan Taukid seolah-olah Nabi Nuh ragu. Hal ini dilakukan untuk memperkuat suatu pernyataan.Surah Yusuf ayat 53: (وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُوْءِ).(تنزيل غير المنُكر منزلة المنكر) Kalam Inkar digunakan untuk Mukhathab Ghair Munkir, apabila menunjukkan sesuatu dari tanda-tanda inkar. Contoh perkataan Hajal ibn Taghlah Al-Qaisiy: (جاء شَقيقٌ عارضاً رُمَحهُ إنَّ بني عَمك فيهم رماحُ).(تنزيل المتردد منزلة المنكر) Kalam Inkar digunakan untuk Mukhathab Mutaraddid. Seperti perkataanmu kepada yang ragu atas kedatangan musafir dengan kemasyhurannya (kedatangan pejabat).(تنزيل المنكير منزلة خالي الذهن) Kalam Ibtida’i digunakan untuk Mukhathab Munkir. Contoh Surah Al-Baqarah ayat 163: (وَإِلَهُكُمْ إَلَهٌ وَاحِدٌ). Pada ayat ini, Allah Ta’ala menggunakan Kalam Khabari Ibtida’i yaitu tidak menggunakan Taukid, padahal Mukhathab-nya adalah orang-orang kafir yang ingkar. Pertimbangan penggunaan Kalam Ibtida’i untuk Mukhatab Inkari adalah karena di samping orang-orang kafir tersebut sudah ada bukti yang dapat mendorong mereka untuk beriman. Oleh karena itu keingkaran mereka tidak dijadikan dasar untuk menggunakan ungkapan penegasan dengan Taukid.(تنزيل المنكر منزلة المتردد) Kalam Thalabi digunakan untuk Mukhatab Munkir. Seperti perkataanmu kepada yang mengingkari kemuliaan adab dengan keingkaran yang lemah, karena meminta pertolongan kepada harta, harta akan hilang, sedangkan meminta pertolongan kepada adab, ia tidak akan hilang darimu.













0 Comments